Sepal, petal dan bibir bunganya berwarna merah muda sampai ungu dengan sapuan keputih-putihan. Warna yang melambangkan  keromantisan, cinta dan kasih sayang. Warna universal kesukaan banyak orang. Rangkaian kuntum bunganya sangat menawan, bersusun rapi, semarak, dan semua seakan ingin tampil menampakkan pesonanya. Itulah sebagian pujian, sanjungan yang layak dialamatkan ke anggrek ini.

Sudah tidak diragukan lagi, anggrek ini memang memiliki banyak keunggulan yang sulit tertandingi anggrek lain di kelasnya. Ia juga mudah dibudidayakan, cepat berbunga, berbunga sepanjang tahun dan selain banyak bunganyapun mampu bertahan berbulan-bulan. Dari segi kepopuleran, di Kalimantan Tengah barangkali hanya anggrek ini yang mampu menandingi ketenaran si ekor tikus Paraphalaenopsis laycockii maskotnya Kota Palangka Raya. Kabarnya harga anggrek ini pernah menembus angka diatas Rp. 5.000.000,- per pot, sungguh sebuah harga yang luar biasa untuk anggrek selevel dendro species di daerahnya sendiri. Mengoleksi anggrek ini seakan merupakan lagu wajib  bagi para penghobi. Itulah sang idola masyarakat  Kalimantan Tengah “Anggrek Mantangai”.

Sampai disini kita sepakat bahwa anggrek ini memiliki nilai-nilai lebih yang tak terbantahkan. Namun ada satu hal yang sedikit ingin blog ini ceritakan berkaitan dengan segala kelebihan anggrek yang sama-sama kita banggakan ini, yaitu latar belakangnya. Tak elok rasanya kalau kita tidak mengetahui dengan jelas latar belakang atau asal-usul  apa-apa yang kita cintai termasuk koleksi-koleksi kita, anggrek kita. Berdasarkan keterangan orang-orang yang memeliharanya, anggrek ini sesuai namanya konon berasal sebuah daerah  di Kalimantan Tengah tepatnya kecamatan Mantangai kabupaten Kuala Kapuas. Anggrek ini katanya banyak dibudidayakan/dipelihara masyarakat setempat, dan katanya pula bahwa anggrek ini banyak ditemukan “berasal dari daerah Mantangai ini”. Sementara menurut berita resmi PVT Pendaftaran Varietas Lokal  No. Publikasi : 068/BR/PVL/11/2007 dengan pemohon Bapak A. Teras Narang, SH. Gubernur Kalimantan Tengah anggrek Dendrobium mantangai mempunyai penyebaran geografis di Kota Palangka Raya, Kab. Katingan, Kab. Kapuas, Kab. Barito Timur, Kab.Barito Selatan.

Dengan dasar informasi diatas, sudah yakinkah kita kalau anggrek kita ini benar-benar asli berasal dari daerah Kalimantan Tengah? Lalu bagaimana dengan pertanyaan yang ini; Apakah kita pernah melihat tanaman ini tumbuh menempel di sebatang pohon di pinggiran hutan di wilayah daerah-daerah yang disebutkan di atas? Atau pernahkah kita membeli anggrek ini langsung dari pemburu atau penjajanya yang ditawarkan dalam kondisi khas berpenampilan baru dicabut dari pohon inangnya di hutan seperti kita pernah membeli jenis anggrek lain semacam Grammatophyllum Speciosum(Anggrek tebu), Dipodium, Bulbophyllum atau Coelogyne yang lumrah kita temukan?

Sebelum ada jawaban “pernah”, blog ini memiliki sedikit informasi tentang anggrek lain yang fotonya mirip-mirip Anggrek Mantangai, sekali lagi “mirip”. Mudah-mudahan memang “cumi” cuma mirip, sehingga yang berwenang dalam hal ini para pakar anggrek tidak perlu pembuktian fisik untuk menguji kebenarannya….(ceritanya ngikutin trend foto mirip artis nih)

Inilah foto-fhotonya :

1. Dendrobium affine


2. Dendrobium bigibbum


3. Dendrobium phalaenopsis


4. Dendrobium striaenopsis




RE Holttum membagi jenis dendrobium menjadi 20 seksi, keempat species tersebut masuk kedalam seksi Phalaenanthe dengan penyebaran di Papua. (lihat infokit trubus Anggrek Dendobium 2005, hal. 18). Sementara menurut Sugeng Sri Lestari dalam buku Mengenal dan Bertanam Anggrek 1985 hal. 48, Dendrobium phalaenopsis yang dikenal juga sebagai anggrek “larat” berasal dari kepulauan Tanimbar, penyebarannya ke selatan sampai ke Australia dan Selandia Baru.

Satu informasi tambahan untuk Dendrobium striaenopsis, species ini memiliki nama lain sebagai :

Dendrobium bigibbum subsp. laratensis Clemesha.  Dendrobium phalaenopsis var. schroederianum Mast.
Dendrobium phalaenopsis var. schroederianum W.Watson.  Vappodes striaenopsis (M.A.Clem. & D.L.Jones) M.A.Clem. & D.L.Jones

Sebelum mengambil satu kesimpulan ada salah satu kisah lain tentang status sebuah tanaman unggulan di negeri ini. “Pisang konsumsi semacam pisang ambon, pisang raja atau yang lain-lain yang banyak kita temukan di pasar-pasar konon aslinya dulu sebagian besar bukan  berasal dari Indonesia. Karena misalnya di suatu daerah di Indonesia ini tanaman tersebut banyak ditanam dan sangat cocok dibudidayakan maka tak jarang daerah tersebut menjadikannya sebagai tanaman buah unggulan”……???

Silakan kita mengambil kesimpulan sendiri tentang asal-usul Anggrek Mantangai ini

Tapi blog ini punya versi pendapat belum meyakini kalau anggrek yang kita bicarakan ini asli spesies Kalteng dengan dasar :  1) Bentuk bunga dendrobium yang termasuk seksi Phalaenanthe seperti keempat spesies diatas menurut beberapa literatur penyebarannya secara alami tidak sampai ke Pulau Kalimantan.  2) Sejauh ini belum ada kesaksian satu orang pun yang mengaku benar-benar pernah melihat atau menemukan anggrek Mantangai ini di habitat aslinya di Kalimantan Tengah.

Tentu segala kemungkinan bisa saja terjadi, boleh jadi nenek moyang kita dulu awalnya memang pernah menemukan tetua anggrek ini di satu daerah di Kalteng. Mungkin….. Yach….., apapun kemungkinannya, dari manapun asalnya, “anggrek mantangai” tetap menjadi salah satu anggrek yang paling top di Kalimantan Tengah.